Kolaborasi Pendidikan Antarnegara Pasifik : Sebuah Cermin untuk Kita Berkaca
Dimuat di Pikiran Rakyat, 2 Januari 2003
NEGARA-NEGARA di pinggiran laut Pasifik (Pacific Rim), untuk selanjutnya disebut negara-negara Pasifik, khususnya anggota Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE) sekarang tengah berada di dalam era global-industrial. Pada satu sisi konteks global tertandai dengan terjadinya keterjangkauan akses informasi hampir di seluruh bidang kehidupan, sedangkan di sisi lain konteks industrial tertandai dengan terjadinya transformasi pada berbagai konsentrasi sumber investasi.
Keterjangkauan informasi tersebut di atas telah menimbulkan kompetisi global. Setiap menit bahkan setiap detik kita menghadapi persaingan serta perpaduan budaya antarbangsa (cultural contact) yang tidak mungkin dihindari. Setiap detik kita dituntun oleh alam dan didorong oleh teknologi untuk melibatkan diri ke dalam arus perubahan. Di sisi lainnya, masyarakat negara-negara Pasifik yang mulanya masih meletakkan konsentrasi sumber investasi pada tanah pertanian (preindustrial society) secara perlahan-lahan tetapi pasti mengubahnya ke permesinan dan jasa (industrial society). Sekelompok kecil di antaranya bahkan telah mengubahnya ke ilmu pengetahuan dan teknologi (post industrial society).
Salah satu metode untuk mensiasati kompetisi global tersebut ialah dengan menjaring kolaborasi antarnegara pada masalah-masalah tertentu yang dianggap penting (important) dan/atau genting (urgent) oleh sekelompok negara. Pendidikan merupakan salah satu masalah yang memenuhi kedua kriteria tersebut. Itu berarti bahwa kolaborasi pendidikan antarnegara Pasifik sangat diperlukan sebagaimana pernah saya kemukakan dalam seminar internasional PAPE di Manila Filipina beberapa waktu yang lalu.
Kualitas pendidikan
Perlu dilakukannya kolaborasi pendidikan antarnegara Pasifik didukung oleh realitas mengenai terjadinya perbedaan mutu atau kualitas pendidikan di antara negara-negara Pasifik itu sendiri. Satu studi yang pernah dilakukan oleh UNDP, United Nations for Development Programme (2000), tentang indeks pembangunan manusia mendapatkan bukti tentang adanya perbedaan nyata antarnegara anggota PAPE; seperti Kanada, Amerika Serikat (AS), Australia, New Zealand, Jepang, Taiwan, Republik Korea, Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia, Indonesia, dan sebagainya.
Temuan dari studi tersebut menyatakan bahwa dalam konteks kualitas manusia, tiga anggota PAPE berada di peringkat atas, dalam hal ini adalah Kanada (1), AS (2), dan Jepang (5). Ada beberapa negara menempati peringkat tengah seperti Malaysia (61), Thailand (76), dan Filipina (77). Akan tetapi, ternyata ada pula yang berada di peringkat bawah seperti Vietnam (108) dan Indonesia (109).
Sementara itu, hasil penelitian IIMD, International Institute for Management Development, (2001) mengenai daya saing ekonomi mendapatkan hasil yang sama; yaitu ada perbedaan yang signifikan tentang daya saing ekonomi antarnegara Pasifik. Sebagai contoh riil peringkat beberapa negara anggota PAPE di Asia ialah sbb.: Australia (11), New Zealand (21), Republik Korea (28), Malaysia (29), Thailand (38), Filipina (40), dan Indonesia (49). Dalam hal ini terdapat negara yang bertengger di papan atas, sementara ada pula yang tengkurap di papan bawah, bahkan paling bawah.
Hasil studi tersebut secara tak langsung menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kualitas pendidikan antarnegara Pasifik, utamanya anggota PAPE. Bukankah kualitas manusia dan daya saing ekonomi suatu negara merupakan hasil pendidikan dalam kurun waktu yang panjang? Hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa kinerja pendidikan antarnegara Pasifik berbeda di antara yang satu dengan yang lain.
Kesimpulan tersebut diperkuat oleh hasil studi PERC, Political and Economic Risk Consultancy, (2001) mengenai kualitas pendidikan di negara-negara Asia. Beberapa indikator yang dipakai antara lain ialah ketersediaan tenaga kerja terampil, manajer yang rofesional, dsb. Hasil studi ini menyatakan bahwa Republik Korea berada di puncak peringkat (1), sementara Malaysia ada di peringkat tengah (7), dan Indonesia ada di peringkat paling bawah (12). Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan antarnegara Pasifik memang sangat beragam.
Kondisi guru
Dalam dua atau tiga dasawarsa terakhir ini perkembangan teknologi informasi berjalan sangat cepat yang telah membawa kita pada era informasi. Perkembangan ini mempengaruhi perikehidupan masyarakat Pasifik dalam berbagai aspek sekaligus, termasuk aspek pendidikan. Sekarang ini berbagai kegiatan pendidikan, baik dalam maupun luar kelas, dituntut dapat mengaplikasi teknologi informasi. Teknologi informasi benar-benar telah menjadi tantangan bagi para praktisi pendidikan di mana saja berada.
Dalam skala makro perkembangan teknologi informasi membawa banyak benefit bagi negara-negara berkembang, khususnya negara industri. Di negara ini perkembangan teknologi informasi dapat dikemas serta dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas pendidikan, seperti misalnya pendidikan terbuka (open education), pendidikan jarak jauh (distance learning), pengajaran bermedia (mediated instruction), dan sebagainya. Namun, di sisi yang lain harus disadari bahwa hal seperti itu tidak terjadi di negara-negara belum maju. Di negara yang belum maju, cepatnya perkembangan teknologi informasi justru menjadi beban tersendiri.
Keadaan tersebut di atas dapat memperpanjang kesenjangan kualitas pendidikan antara negara-negara belum maju, negara ber-kembang, dan negara-negara maju.
Di dalam skala mikro, hal tersebut berlaku bagi para guru. Bagi guru yang dapat memanfaatkan teknologi informasi, khususnya guru di negara-negara maju maka perkembangan profesionalismenya cenderung lebih pesat; sementara bagi guru yang tidak dapat atau tidak mampu mengakses teknologi informasi justru akan semakin ditinggal oleh perkembangan teknologinya itu sendiri. Dalam konteks negara Pasifik memang ada guru yang terbiasa mengakses teknologi informasi seperti komputer, laptop, notebook, CAI, dsb. Akan tetapi, banyak pula yang belum pernah menyentuhnya.
Guru-guru di Jepang yang sering saya lihat umumnya sudah mengakses teknologi informasi baik di dalam maupun di luar kelas. Sementara itu, kebanyakan guru di Indonesia dan di Filipina masih belum terlalu familiar dengan teknologi informasi. Sudah tentu hal yang demikian akan membedakan kadar profesionalismenya.
Bila dilihat dari penghargaan pemerintah dan yayasan penyelenggara pendidikan terhadap para guru juga berbeda. Memang bila dilihat dari perhatian saja, umumnya perhatian pemerintah terhadap guru sangat positif. Hal ini baru terasa berbeda kalau menyentuh penghargaan dalam bentuk finansial.
Ada guru yang mendapat penghargaan finansial memadai dari pemerintah dalam bentuk gaji dan/atau penghasilan, misalnya guru di Jepang. Seorang guru di Jepang setidaknya akan mendapat gaji sebesar 200.000 Yen per bulan dan dengan uang itu sangat cukup untuk hidup layak dan mengembangkan profesi. Guru di Vietnam memperoleh gaji setidaknya 600.000 VD per bulan, sedangkan untuk hidup layak keluarga cukup dengan 200.000 VD. Artinya, guru bisa menabung dua pertiga dari gajinya setiap bulan.
Kondisi seperti itu tidak terjadi di Indonesia. Guru-guru di Indonesia dan di beberapa negara lain memperoleh gaji yang hanya pas-pasan sehingga agak sulit untuk mengembangkan profesi. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan mengenai kondisi guru antarnegara Pasifik.
Semangat kebersamaan
Tidak bisa dimungkiri sekarang ini terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal kualitas pendidikan dan kondisi guru antarnegara Pasifik, khususnya anggota PAPE. Perbedaan ini mendukung dikembangkannya kolaborasi. Realitas perbedaan ini harus dikelola secara kreatif untuk memperkuat kerja sama antarmanusia yang sama-sama memiliki kepedulian di bidang pendidikan.
Semangat kebersamaan sangat diperlukan untuk membangun kolaborasi pendidikan baik menyangkut guru, siswa, dana, sistem, program maupun aktivitas. Prinsip the strong helps out the weak perlu dikembangkan secara nyata. Meski dalam realitasnya kondisi guru antarnegara sangat berbeda tetapi masing-masing dari mereka memiliki kelebihan misalnya dalam kekhususan keahlian, keterampilan, atau aspek yang lain. Antarnegara Pasifik bisa mengembangkan program pertukaran guru; misalnya Jepang dengan Indonesia, AS dengan Malaysia, Australia dengan Thailand, dan sebagainya.
Sebagai contoh riil dalam satu atau dua semester beberapa guru swasta Jepang dikirimkan ke sekolah-sekolah di Indonesia. Di samping mengajar kepada siswa, SMU misalnya, mereka bisa mempelajari budaya Indonesia khususnya yang terkait dengan profesinya. Sekembalinya ke Jepang mereka bisa mengajarkan budaya Indonesia kepada para siswanya. Hal ini juga berlaku untuk guru Indonesia yang dikirim untuk mengajar pada sekolah-sekolah di Jepang.
Di samping program pertukaran guru seperti tersebut di atas masih banyak program lain yang pantas dikembangkan, misalnya saja program pertukaran siswa, pertukaran informasi akademis, kunjungan antarsekolah, dan sebagainya. Itu semua kuncinya ada pada semangat kebersamaan!***


0 Comments:
Post a Comment
<< Home